Review & Customer Journey Mapping (CJM) KA Trans Sulawesi: Menemukan Titik Frustrasi Penumpang
Andi Tenri
Service Designer • Warga Makassar
"Kereta Api Trans Sulawesi adalah fasilitas kebanggaan baru. Sebagai warga Makassar yang punya urusan dinas ke kota Barru, saya mencoba menganalisis layanan ini menggunakan alat Customer Journey Mapping (CJM).
Ringkasan Masalah (Berdasarkan CJM): Pengalaman di dalam kereta dan stasiun sangat luar biasa (bintang lima!), namun layanan ini terasa sangat timpang karena sulitnya akses menuju stasiun (First-mile) dan tidak adanya angkutan dari stasiun tujuan ke pusat kota (Last-mile). Biaya taksi menuju stasiun bahkan jauh lebih mahal dari tiket keretanya sendiri. Berikut rincian perjalanan pemetaan perjalanan (Customer Journey) saya."
Peta Perjalanan Pelanggan (CJM)
Akses & First-Mile (Menuju Stasiun)
Berangkat dari kawasan Daya (Makassar) menuju Stasiun Mandai (Maros).
Fasilitas Stasiun (Check-In)
Tiba di Stasiun Mandai dan menunggu jadwal keberangkatan.
Kenyamanan Perjalanan (Dalam Kabin)
Perjalanan melintasi area karst Maros dan Pangkep.
Kedatangan & Last-Mile
Turun di Stasiun Garongkong, mencari kendaraan ke Pusat Kota Barru.
Kesimpulan & Rekomendasi Solusi
Berdasarkan CJM di atas, layanan inti (Kereta & Stasiun) layak mendapat apresiasi tinggi. Namun, minimnya ekosistem transportasi pendukung membuat kereta ini tidak efisien untuk komuter harian. Untuk menjadikan KA Trans Sulawesi benar-benar berdampak, berikut solusinya:
Integrasi Teman Bus
Pemerintah daerah (Makassar & Maros) harus memperpanjang trayek Trans Mamminasata (Teman Bus) agar memiliki halte perhentian tepat di area penurunan (*drop-off*) Stasiun Mandai.
Shuttle Bus / Pete-pete Resmi
Pemkab Barru dapat memberdayakan Koperasi Angkot lokal sebagai *Shuttle* resmi stasiun dengan jadwal yang selaras dengan kedatangan kereta, dan menerapkan tarif dasar (*Flat Rate*) ke pusat kota agar penumpang tidak ragu.
2 Komentar
blog nya bagus kak
BalasHapuswkwk, makasih ya
Hapus